mimpi-mimpiku

Sabtu, 21 Maret 2015

Mengetuk Pintu Hidayah

Bibir yang mengkerut itu masih kelu untuk berucap. Sementara malaikat maut telah mengetuk-ngetuk pintu. Pergolakan batin mendera jiwanya. Sampai nafas penghabisan.. ia tak sempat mengucap...
Ash Hadu Alla... Ilaha Illallah...
wa Ash hadu anna Muhammadar Rasulullah..

Dialah, Abu Thalib. Paman Rasulullah yang membela beliau dalam jalan dakwah. Yang menjadikan darah Rasul menjadi sangat berarti untuk tidak ditumpahkan oleh Quraisy. Ialah, perisai yang agung. Meski cahaya hidayah padam redup tanpa sisa dihilir nafasnya yang terakhir. Ia memilih untuk mempertahankan akidah lamanya, dan tak sempat mengimani risalah yang dibawa oleh Rasul.

Begitulah hidayah. Hak prerogatif Allah. Tak ada satupun makhluk yang bisa menentukannya. Dia laksana cahaya yang membakar kegelapan. Memberi kehangatan. Payung yang meneduhkan jiwa. Sebab ia adalah jalan pembuka mengenal Allah. Dialah.. awal yang baru dalam kehidupan.
Hidayah tidak datang dengan sendirinya. Ia mesti dikejar. Dikejar dengan hati yang lapang. Bukan kesombongan dan rasa bangga diri. Hidayah tak akan sampai mengena di hati orang-orang yang sombong. Yang tak mau menerima kebaikan. Dan lebih memilih berkarib kelam dengan kebusukan duniawi.
Sebagai seorang muslim, tentu kita mesti mengenal Rabb kita dengan baik. Berpasrah terhadap akidah yang kita miliki. Mengenal apa itu ISLAM? Lalu berpasrah terhadapnya. (Islam = berpasrah). Belum pantas rasanya, seseorang mengaku dirinya umat Islam, tapi masih enggan untuk mendalaminya. Bahasa yang sering muncul; "jadi umat Islam yang biasa-biasa ajah." Tapi kawan.. apakah kita yakin, dengan menjadi umat Islam yang biasa-biasa ajah, kita akan terbebas dari hukum Tuhan? Ubahlah diri kita segera. Reformasi keimanan kita. Maka kerjarlah hidayah Allah. Tembus jalan berduri menuju pengenalan pada Allah SWT. Jerat hidayah itu. Peluk erat. Meski bedil tajam bersembunyi di balik dada dan kepak sayapnya.
Hidupmu .. adalah kekosongan. Selagi belum mengenal Allah. Lantas? dengan cara apa kita bisa mengenal Rabb kita? Apa hanya dengan sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, sudah cukup untuk mengenal Allah? Masing-masing dari kita tentu tahu jawabannya.
Untuk mengenal sang Khalik, buka hatimu lebih dulu kawan. Biarkan berupa-rupa kebaikan menelusup ke dalamnya. Jangan tanamkan sikap sombong. Kesombongan adalah penghalang mengenal Allah. Berharaplah selalu, Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang baik, yang soleh.. yang senantiasa mengajak kita pada kebaikan. Meskipun kita termasuk orang-orang yang buruk, yang jahiliah, berlumur dosa.
Tahukah kamu?
Dia telah memilih segolongan dari umat-Nya untuk diselamatkan lebih dulu. Kaupun bisa menjadi segolongan itu. Asalkan.. hatimu padat oleh prasangka baik. Jangan hanya karena kasus terorisme yang merupakan bagian dari propaganda media barat, kita menjauh dari agama kita sendiri. Ingatlah kawan.. hampir setiap hari kita berdoa; tunjukilah kami jalan yang lurus (Al-Fatihah:6). Dia tak akan memberimu kesesatan selagi engkau terus mengingatnya. Menyimpan asmanya dalam hatimu.
Jangan pernah membenci agamamu sendiri. Sebab kau membenci sesuatu yang belum sepenuhnya kau pahami. Apa kau pernah membaca terjemahan kitab suci Al-Qur'an secara utuh? Percayalah.. kau hanya belum mendapati cinta yang tersembunyi di dalamnya. Di dalam Islam.
Selama kau membenci agamamu.. maka selama itu pula Hidayah enggan merapat ke hatimu.
Jadi.. jika kau ingin menghirup hidayah dari sang pencipta.. pastikan hatimu melunak, merendah, menyadari bahwa dirimu hanya makhluk yang lemah. Tinggalkan kesombongan. dan dekati kebaikan.
Percayalah kawan.. pintu hidayah itu nyata..
Ketuk ia... dengan hati yang paling lembut...


Kamis, 19 Februari 2015

Jalan Terjal Penuh Cinta Bersama Mereka: sebuah syair sederhana untuk para pengemban dakwah..

Ya Allah...
Apakah ini jalan yang telah Engkau titipkan kepada kami...?
jalan terjal yang mesti dilalui oleh segelintir orang,
dan segelintir orang itu adalah kami?
Ya Allah..
jalan yang terjal mesti dilalui oleh kaki yang tangguh
yang mampu tetap tegar menopang diri
tapi kami tersaruk-saruk, terdera dalam jalan ini..
Apakah kami pantas ya Allah.. menjadi segolongan orang yang menjadi perantara hidayahMu?
Sementara hati ini begitu kering meranggas bersama dosa yang menghimpit pedih
Apakah jiwa ini pantas menyambung jiwa-jiwa yang lain
untuk mencintaiMu secara utuh
mengesakanMu secara sempurna
dan menempatkanMu di hati yang paling lembah
sementara keimanan naik-turun tak ubahnya air mendidih dalam bejana
Ya Allah..
Apakah ini jalan yang telah Engkau titipkan kepada kami?
sombongkah diri ini?? melabeli diri dengan istilah lembaga dakwah
dan dihias dengan kata pelayan umat?
sementara hati belum sepenuhnya terjaga
dan kami lemah menapaki jalan terjal ini
Kami bukan Abu Bakar dengan keimanan tanpa retak
bukan pula Umar Bin Khatab yang tegas dan pemberani
menyeru kebaikan dan membasmi keburukan
Kami juga tak selembut Usman Bin Affan
kadang lisan dan perangai bercelah nista
Apalagi menyamai kecerdasan Ali Bin Abi Thalib
kami fakir akan ilmu
Ya Allah.. di balik kelemahan diri ini..
kuatkanlah ikatan kami
dan bimbinglah kami
menapaki jalan yang telah Engkau titipkan ini...
jalan terjal berkerikil tajam yang bersamanya termuat janjiMu..
:mempersatukan kami kelak
di taman surga
...

Senin, 12 Januari 2015

Detak Jantung Sang Pembunuh


Jam dua malam Leha masih terjaga. Ia menyeret sebongkah mayat yang berlumuran darah. Mata mayat itu membelalak, seperti menagih nyawa. Di lehernya ada bekas sabitan celurit. Dan dadanya koyak dihantam tujuh belas tusukan yang mencipratkan darah. Leha duduk sebentar. Ia kelelahan. Dalam benaknya melintas pertanyaan; “mau kuapakan mayat ini?”
Leha berpikir keras. Ia mengamati darah segar yang menetes dari lingkar leher Sapri. Seketika ia teringat saat sepuluh menit yang lalu. Saat ia membunuh lelaki itu. Dengan tujuh belas tusukan di pusaran jantung, dan sabitan di leher. Beruntung lelaki itu tengah tertidur lelap, sehingga tak ada kesempatan untuk menyerang balik. Leha menang. Ia berhasil menebus rasa sakit yang ditimbulkan oleh mayat itu,_yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
Mula-mula Leha menyetel radio. Tidak penting apa salurannya, dan siapa penyiarnya,_yang penting bisa menelan kesunyian malam dan kengerian bersama mayat. Sekali lagi ia bertanya; “mau kuapakan mayat ini.” Tetes keringat meluncur lagi. Pikiran Leha kalap direjam ketakutan.
Leha mengambil pisau daging. Lalu memotong jasad suaminya menjadi delapan bagian. Takk!! Mula-mula kepala, agar ia bisa membungkus wajah ngeri yang ditampilkan jasad itu. Kemudian kedua tangannya. Takut tangan-tangan itu tiba-tiba saja menggerayang dan membalas membunuh Leha. Darah memburai lagi. Mengalir di lantai kamar mandi menuju lubang saluran air. Lantas Leha memotong kedua kaki mayat tepat dua senti di bawah lututnya. Terakhir, ia memotong lingkar perut yang penuh lemak. Leha terus memotong-motong jasad di hadapannya. Menghentakkan pisau dengan tulang kaki yang keras. Membelah daging dan organ tubuh di perut. Darah bercipratan di wajah Leha. Tangannya bermandikan cairan merah. Isi perutnya mulai melonjak, begitu organ tubuh Sapri menyembul di balik potongan tubuh.
Potongan-potongan itu dimasukkan ke dalam karung. Bersama helai demi helai kain dan cairan pembersih lantai ditumpahkan di dalamnya. Leha bergidik setiap kali tangannya mengangkat potongan mayat yang kaku, dan menaruhnya dalam karung. Kulit-kulit yang dingin seakan menempel dalam relung takutnya. Juga sisa-sisa serpihan daging yang berceceran di lantai.
Leha kembali bingung. Sementara keringat dingin terus menetes di sekujur wajahnya. Tangannya gemetar. Debar-debur jantungnya kian menghentak keras. “Mau dibuang kemana mayat ini?” pikir Leha. Ia melihat jarum jam. Sudah hampir jam tiga.
Leha ke luar lewat pintu belakang. Ia celingukan. Memandang sekitar. Gelap. Di hadapannya berdiri pepohonan pisang yang memagari halaman belakang rumah. Halaman itu sempit, gelap dan dipenuhi belukar. Di sekeliling sepi. Hanya ada suara jangkrik dan lolongan anjing yang berasal dari bukit. Tak kan ada siapapun yang berkeliaran di sini. Aman.
Leha menggali gundukan tanah yang lembab. Membentuk liang lahat. Sesekali ia menatap di sekitar, dan melirik jam lewat celah pintu. Sepuluh menit berselang, belum juga terlihat pas. Belum dalam. Ia terus menggali, sampai nafasnya habis, ngos-ngos-an. Jantungnya masih memburu. Hidungnya gelagapan mencium bau amis darah yang bersumber dari saluran air. Tapi Leha terus menggali. Menggali sampai menemukan kedalaman.
Menjelang subuh, semuanya telah beres. Bercak-bercak darah sudah dibersihkan. Bau amis sudah ditelan bau parfum dan karbol. Jasad itu sudah dikubur bersama barang-barang bukti yang berlapiskan darah. Tapi Leha masih cemas. Jantungnya masih berlompatan. Ia mencoba untuk tidur. Mendekap guling dan membenamkan wajahnya dalam ketakutan.
***
Leha terbangun saat mentari berdiri tepat di ubun-ubun. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Jantungnya kembali berdebar. Ia mengecek lagi seluruh lapisan lantai. Takut masih ada darah yang tertinggal. Ia juga mengecek halaman belakang. Pundaknya bergidik.
Seluruh gorden jendela ditarik oleh Leha. Ia tak membiarkan hembusan angin masuk ke rumahnya,_dan mengabarkan pada khalayak soal kasus pembunuhan yang ia lakukan. Leha kembali menarik selimut, dan menonton televisi. Tapi kemudian dimatikan. Karena jam segini televisi banyak menggelar siaran berita. Terutama berita kematian.
Leha tak jadi tiduran. Hari ini ia harus membayar tagihan sewa. Tapi tak ada uang. Mau tidak mau ia pergi menemui Sundari untuk pinjam uang. Di perjalanan menuju rumah Sundari, Leha mengamati wajah-wajah penduduk. Tatapan mereka seperti mengintai gerak-gerik Leha. Seperti ada belatung yang menggeliat di bola mata. Setiap kali mereka mendekat, Leha bergerak cemas menghindar. Takut ditangkap dan diadili. Ia terus bergerak. Seperti anak tikus yang dikepung dalam labirin. Di setiap ujungnya berkobar api dari neraka. Dan lahar panas meleleh dari setiap dinding yang ia temui. Bayangan Leha seperti roh Sapri yang mengikutinya. Menagih potongan-potongan tubuh dan minta dikembalikan nyawanya. Dan lagi, setiap wajah yang ia temui, seperti gumpalan belatung yang menari-nari dalam karung. Menghisap darah dan menggerogoti daging busuk. Leha tak jadi ke rumah Sundari. Bias pucat di wajahnya telah membentuk kecurigaan.
“Leha? Kau kenapa? Sakit? Wajahmu pucat sekali..” tutur lembut Mirah sambil menyentuh pipi Leha. Leha menggeleng. “Kau mau kemana? Biar kuantar..” Entah mengapa Leha merasa Mirah akan mengantarnya ke kantor polisi. Ia bergegas menjauh dari perempuan itu. Kembali ia menyaksikan belatung-belatung halus di bola mata Mirah.
Dua hari sudah Leha mengurung diri di dalam rumah. Hanya keluar untuk belanja dan menjemur pakaian. Ia sering mengecek kuburan Sapri. Takut kuburan itu menyembulkan bau busuk, dan diusik orang. Leha juga mulai jarang tidur di kamar, dan selalu ketakutan setiap kali melangkah masuk ke dalam toilet.
Kini Leha menjadi pemurung. Bayang-bayang wajah mengenaskan suaminya selalu menghiasi tidur Leha. Ia takut roh Sapri gentayangan dan menuntut balasan. Terutama di malam-malam dingin dan sepi. Malam kliwon, dan bulan menggenapkan terangnya. Lela selalu merasa dihantui bisikan-bisikan gaib. Seolah ada getaran halus yang mengetuk-ngetuk sukmanya. Memanggil nama Leha. Dan minta dikuburkan dengan semestinya.
Menjelang sore, ada seorang pria yang bertandang ke rumah Leha.
“Saprinya ada??” tanya Jafar. Karib Sapri yang tinggal di kampung sebelah.
“B..b..Bang Sapri,_udah tiga hari ini ke Purworejo. Ada proyek di sana,” jawab Leha seraya memalingkan ketakutannya.
“Kok dia nggak bilang?”
“Mungkin nggak sempet bilang kali bang.. Soalnya mendadak,” Jafar mengangguk-angguk. “Ada sesuatu yang penting?”
“ng.. nggak ada kok._kapan dia balik ke rumah?”
“Mungkin satu bulan lagi,” jawab Leha asal. Kini ia mulai menikmati kebohongannya.
“Ya sudah.. bang Jafar balik dulu ya Ha... jaga diri kau baik-baik. Kalau Sapri sudah pulang, suruh ia main ke rumah abang.”
“Iya bang.. nanti Leha sampaikan..”
Leha segera menutup pintu begitu Jafar pergi. Ia menarik nafas lega. Tapi beberapa detik kemudian, pintu diketuk kembali. Leha berpikir sejenak. Debar-debur di jantungnya kembali berulah. Ketukan pintu semakin keras dan mendesak. Leha membuka pintu. Sepasang matanya menangkap paras bu Lastri yang masam. Leha ingat; ia belum bayar sewa bulan ini.
“mm.. Bang Sapri._lagi ada proyek di Purworejo. Baru tiga hari ini. Jadi belum bisa kirim uang. Barangkali minggu depan.” Bu Lastri diam saja. Tatapan matanya kembali menusuk. Leha merasakan ada belatung-belatung kecil yang menggeliat di bola mata perempuan itu. Lengkap dengan jarum dan mata paku.
“mulai besok! datang ke rumah saya jam delapan. Jangan telat!” Bu Lastri langsung pergi. Leha menutup pintu cepat-cepat. Seperti biasa, jika uang sewa kontrakan telat dibayar, Leha menjadi buruh cuci dan setrika di rumah bu Lastri. Setidaknya, ia tidak perlu repot-repot lagi memikirkan makan siang.
***
Leha baru pulang dari rumah bu Lastri ketika seonggok mobil polisi bertengger di depan rumahnya. Ia gelagapan. Di halaman rumahnya berkerumun orang-orang dengan bias wajah muram. Sebagian menangis terisak. Sebagian menampilkan paras kebingungan. Ada garis polisi yang melintang di rumah  bu Tuminah. Dan beberapa polisi bermasker mondar-mandir sekitar pekarangan rumah tersebut. Leha semakin bingung. Paling tidak ia aman, karena semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Sapri.
Dalam hati, sebetulnya Leha ingin cepat-cepat pergi. Ia takut dimintai keterangan sebagai saksi. Tapi ketika ia membalikkan tubuhnya, bu Sundari datang dan menarik lengan Leha. Pipi perempuan itu lembab oleh air mata.
“Leha..” lirih Sundari sembari memeluk sahabatnya. Leha semakin bingung.
“Ada apa??”
“b..bu.. bu Minah Leha..! BU MINAH..!”
“ADA APA dengan bu Minah?” tanya Leha sembari mencoba melepas pelukan Sundari. Sundari menahan isak.
 “Bu Minah BUNUH DIRI!!” Leha shock mendengar jawaban Sundari. Dadanya sesak. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sundari. “Innalillahi..wa inna ilaihi roji’un..” ucapnya kemudian. “Ke sana yuk.. polisi dari tadi menunggumu untuk memberikan kesaksian.”
Dugg. Jantung Leha kembali berdetak kencang. Ia menelan ludah. Terbayang tatapan mata penyidik yang mengintai setiap perubahan wajah. Dan gerak serta ucapan-ucapan seseorang yang sedang menutupi kriminalitas akan mudah ditafsirkan. Derap langkah Leha semakin berat. Ia melihat seorang polisi bergerak mendekatinya.
“Anda bu Leha? Tetangga dekat bu Minah?” tanya seorang polisi. Leha mengangguk, dan menelan ludah.
“Boleh minta waktunya sebentar? Kami butuh kesaksian dari Anda.” Leha menggangguk lagi. Jemarinya dingin dan nafasnya tercekat.
Satu jam tiga puluh menit Leha memberi kesaksian. Selepas itu ia lansung pulang ke rumah. Mendekap di bilik kamar yang gelap. Senja semakin merangkak menuju malam. Sementara di luar masih ramai. Telah berkali-kali orang bertanya seputar keberadaan suami Leha. Perempuan itu selalu menjawab bahwa suaminya di Purworejo. Dan baru kembali sebulan kemudian.
Malamnya, seorang pemuda berkunjung ke rumah Leha. Namanya Bahri. Ia anak semata wayang Leha dan Sapri yang merantau ke Jakarta sejak dua tahun yang lalu. Bagi Leha, kehadiran Sapri bisa menebas rasa takut sekaligus kesepiannya. Tapi juga menambah kecemasan Leha soal pembunuhan beberapa hari yang lalu.
“Bapak ke mana bu??” tanya Bahri sambil menggantungkan jaketnya di paku tembok.
“Bapakmu lagi ada proyek,_di Purworejo. Baru selesai tiga atau empat minggu kemudian..” jawab Leha. Tampaknya ia mulai terbiasa dengan kebohongan ini. “Gak papa kan?” Leha mengamati paras kecewa Bahri. Pemuda itu lantas tersenyum hangat pada Leha. Meskipun ia sering berantem dengan bapaknya, tapi lelaki itu masih sangat peduli, dan menyimpan kasih sayang yang dalam.
“Bapak masih seperti dulu bu??” tanya Bahri kemudian. Leha berkaca-kaca sambil menghentikan gerak tangannya menjahit baju. “Masih suka pukulin ibu kalau kalah judi?_Dan nyuri duit simpanan buat mabok-mabokan. Terakhir.. masih suka main serong sama perempuan lain?”
“Cukup Bahri!” tukas Leha dingin. Ia meneruskan jahitannya. Suasana hening sesaat.
“Ibu nggak bisa terus-terusan diam begini dong bu.._Ibu jangan mau disakitin terus sama Bapak. Ibu harus lakuin sesuatu.”
“Cukup! Ibu lagi nggak mau bahas masalah ini!” Bahri diam sejenak. Lalu berujar lagi. Anak itu semakin membandel.
“Liat ajah. Bapak pergi sebulan. Uang yang dibawa pulang gak seberapa. Udah abis duluan buat main judi!” Leha tak merespon. Hanya hatinya terasa terbakar. Seketika ia menemukan kembali alasannya membunuh Sapri. “Padahal ibu tuh cantik. Tipe istri yang penurut. Tapi Bapak ...” Bahri tak meneruskan ucapannya. Ia menatap wajah kosong ibunya.
“Ibu.. nggak ada niatan buat cerai sama Bapak??”
BRAKKK!
Leha menggebrak meja dengan keras. Tatapannya tajam menusuk bola mata Bahri. Lelaki itu terdiam. Suasana semakin dingin. Lekas Bahri beranjak menuju kamar tidur.
***
Pagi-pagi sekali Leha berurusan dengan anjing liar di belakang rumahnya. Lidah anjing itu menjulur kehausan. Tubuhnya yang kurus berlindung dalam bulu-bulu gelap. Matanya mengintai, seperti burung kematian yang mengepakkan sayap di atas jenazah. Leha terus mengusirnya dengan tongkat kayu, krikil, pelepah pisang, dan apa saja yang ada di sekitar.
HUSSH.. HUSSSH
Anjing itu tak bergeming. Ia terus-terusan mengendus tanah datar di halaman belakang rumah Leha. Cakarnya menggaruk-garuk tanah. Leha semakin jengah melihat tingkah anjing itu. Ia semakin keras mengusir anjing itu, tapi binatang itu semakin agresif menyerang sergapannya, dan mengerang buas ke arah Leha. Nyali Leha menciut. Anjing itu semakin buas memecah tanah kuburan.
Lagi-lagi Leha gregetan melihat anjing itu. Ia semakin cemas. Tapi rasa takutnya semakin besar. Setiap kali melihat taring-taring dan cakar-cakar yang meruncing. Begitu anjing yang liar itu menggonggong ke arahnya. Seperti hendak menerkam Leha. Anjing kelaparan. Benak Leha.
Ctakk!!
Anjing itu melompat kesakitan begitu peluru krikil menghantam betisnya. Ia berlari separuh pincang. Tiba-tiba saja Bahri keluar dari pintu sambil membawa ketapel. Ia hendak membidik anjing itu lagi. Tapi urung, begitu ibunya menyuruh Bahri untuk masuk kembali.
“Sebentar bu..” pinta Bahri. Setetes keringat mulai menjalar di pelipis Leha. Bahri mendekati tanah datar yang berserak dedaunan. Bekas cakaran anjing masih menghiasi gundukan itu. Membentuk lubang-lubang tak beraturan. Seperti bongkahan lubang di batu karang. Bahri mengamati sebentar, lalu mengambil cangkul yang terletak di pojok pohon pisang. Leha berkeringat lagi. Di genggam tangannya ada setetes dingin yang menggigil.
***




Catatan Kasih Seorang Ibu

Perempuan itu berlari. Dengan keringat menganak sungai di pelipisnya. Dari Syafa ke Marwa. Dari Marwa ke Syafa. Terus berlari hingga tujuh kali. Demi menemukan air untuk menuntaskan dahaga bayinya. Karena cintanya pada Allah, dan keimanan yang tak retak, pertolongan itu datang setelah lelah menghimpit jiwanya. Bersama limpahan air yang mengucur dari kaki sang bayi, perempuan itu berujar; zam..zam.. (berkumpulah)
 
Selama ini, tak banyak yang tahu, sosok ibu di balik penguasaan Imam Syafi'i terhadap fiqih. Kecerdasannya menghafal Qur'an tidak terlepas dari peran Ibunya yang merupakan hafidzah Qur'an. Sang ibu juga merupakan sosok yang cerdas, dan pantang menyerah demi menempatkan anaknya dalam kultur pendidikan terbaik di Mekkah. Maka jadilah, sesosok pemuda pengubah peradaban yang mazhabnya terkenal seseantaro jagat.

Bercerita tentang kisah kasih seorang ibu, tentu tidak lengkap jika mengesampingkan kisah tentang kebijaksanaan Raja Solomon. Suatu ketika, dua orang ibu saling menuding dan memperebutkan seorang bayi. Keduanya tak mau mengalah. Sampai akhirnya, Raja Solomon mengusulkan untuk membagi dua tubuh bayi tersebut. Salah seorang ibu bersorak kegirangan, dan seorang lagi meringis kepada sang Raja, seraya mengalah dan memohon agar bayi tersebut diserahkan saja kepada ibu yang bersorak itu. Dengan bijak, Raja Solomon memutuskan, kepada siapa bayi ini berhak untuk diberikan.. dan kasih sayang ibu yang tulus tampak nyata dalam kisah ini.

Pernahkah mendengar kisah di balik perang Vietnam-Amerika? tentang seorang perempuan yang mengandung dan melahirkan di terowongan Chu Ci. Demi menyelamatkan nasib banyak orang di lorong bawah tanah, perempuan itu rela membunuh bayinya yang baru lahir, karena saat itu, Vietnam dilarang menambah populasi penduduknya. Jika tidak, bom artileri akan menyapu bersih penduduk di lorong bawah tanah tersebut.

Di era modern, catatan kasih seorang ibu tak pernah redam diterkam zaman. Sebut saja Ibu Esti Wahyuntari yang menyelamatkan putranya dari kecelakaan kereta api. Meskipun ia harus rela kehilangan anggota keluarga lain, termasuk suaminya. Tapi kasih sayang yang refleks itu, justru tertuju kepada putranya yang masih kecil.

Pernahkah mendengar kisah inspiratif-Islami dari Ibu Wirianingsih (anggota Komisi IX DPR RI 2009/14 dari fraksi PKS), yang berhasil mendidik sepuluh anaknya menjadi hafidzul Qur'an. MasyaAllah...

Di Afganistan, seorang ibu melancarkan aksi balas dendam terhadap pasukan teroris Taliban yang telah menembak mati putranya. Perempuan itu menembak mati 25 pasukan Taliban dalam sebuah pertempuran militan yang berlangsung selama 7 jam.

MasyaAllah.. kisah-kisah tadi hanyalah segelintir dari banyaknya kisah yang tak sempat dicatat sejarah. Tentunya masih banyak sosok ibu inspiratif yang senantiasa membentangkan lautan kasih untuk putra-putrinya. Dan sebagai anak? barangkali perlulah sejenak kita menatap simpul senyum di bibir ibu, dan menyaksikan lekuk keriput yang melekat di dahinya. Dan sejenak meresapi kehangatan surgawi dari bongkahan mata seorang ibu.

Mengapa Saya Memilih LDF?

Mengapa saya memilih LDF (Lembaga Dakwah Fakultas)???

jawaban mutlaknya; karena Allah...
tapi akan saya paparkan sedikit, perjalanan menemukan jawaban itu...

Awalnya.. masuk LDF itu sesuatu yang asing, karena memang pada dasarnya, Islam hadir sebagai sesuatu yang asing di tengah kehidupan jahiliah. Masuk organisasi dakwah sebenarnya bukan sesuatu yang spontanitas. Sempat terpikir ketika SMK, sebelum akhirnya saya memilih ekskul jurnalistik, dan melepas keinginan masuk rohis.
Seperti kebanyakan naluri maba; menyeleksi daftar ormawa (atau umumnya disebut UKM, istilah anak SMA-nya ekskul) yang ingin diselancari. Kala itu, saya tertarik untuk ikut BEM, LKM, KOPMA, dan FSI-KU. Setelah fix jadi anak BEM (departemen HUMAS), seorang teman berucap; "kalau BEM itu... lebih ke duniawi. Dan FSI-KU untuk akhiratnya. Biar seimbang."
Saat itu, ada banner besar di Mesjid tercinta UNJ: Mesjid Nurul Irfan, yang isinya Open Recruitment FSI-KU. Saya baca sejenak setiap selesai wudhu. Dan tertancap sebuah nama: MCNR (Media Center N' Relationship). Kala itu, masih berpikir: mungkin gak ya?? jadi anak LDF? Sikap masih amburadul... ilmu agama masih cetek.. dan haahh.. masih banyak masih-masih yang lain...
Beberapa bulan sebelumnya, seorang teman meminjamkan buku karya Helvy Tiana Rosa yang judulnya; Ketika Mas Gagah Pergi. Dia bilang; "buku ini pas banget dibaca sama orang-orang kayak Heri." Alhasil, saya jadi penasaran. Dan... setelah baca sampai habis, saya merasa masih jauh sekali dengan karakteristik Mas Gagah yang dicitrakan sebagai Ikhwan dalam cerita itu. Tapi ajaib, saya ingin meniru tokoh tersebut. Dan mulai memasukkan nama FSI-KU ke dalam daftar ormawa yang ingin diikuti.
Setelah lama kuliah di UNJ, saya mulai melek tentang dunia kampus yang keras. Pertarungan ideologi menyelinap di tengah-tengah perkuliahan dan diskusi. Salah gaul sedikit, bisa terjerumus ke arah yang menjauhkan diri kita dari nilai-nilai keIslaman. Maka, masuk FSI-KU menjadi harga mati bagi saya untuk mereformasi iman. Saya nggak betah dengan hidup yang gini-gini ajah. Jadi umat Islam yang hanya menjalankan ritual rutin keagamaan, seperti shalat, puasa, zakat. Tahajudnya masih di musim-musim pengharapan (saat UN, SBMPTN, dan ajang lomba), jarang mengkaji Al-Qur'an, dan cuek sama perkembangan Islam.
Dan entah... sudut hati bagian mana yang menggerakkan saya untuk mengetik SMS: Daftar FSI-KU_MCNR dan blablabla. Hmm... hidayahkah?? Yang jelas, prinsip saya; jika seseorang ikut BEM, ia punya kapasitas lebih untuk berurusan dengan birokrat dan punya pengalaman mengurus event. Anak LKM terasah jiwa kritis dan kelihaian menulisnya. Anak teater jago akting dan lebih PD berekspresi di depan umum. Anak UKO lebih tangkas di bidang olahraga yang ia geluti. Dan tentu... sobat muslim punya jawaban yang homogen, jika menjadi anak FSI-KU... maka... (Silogisme ini sudah konvensional untuk dimengerti).
Barangkali, jika dulu saya masih menuruti hawa nafsu berfikir dengan perspeksi negatif; "Ahh, gak usah masuk LDF. Kalau mau Islami, secara autodidak ajah berkembangnya." Saya tidak tahu... apakah hati ini sampai untuk menjerat cintanya Allah. Apakah hati ini sanggup menebas ganasnya hidup? Jika dulu saya tidak menancapkan tombak perjuangan mereformasi iman, mungkin saat ini masih jauh dari nilai-nilai Islam. Langkah kaki ini masih amat berat untuk shalat berjamaah di Mesjid. Masih sering menyisipkan emoticon titik dua bintang kepada lawan jenis dalam hubungan sosial media. Tidak keberatan berkhalwat. Pakai celana dandy yang ketat. Masih hobi setel musik Lady Gaga, Rihanna, Eminem. Menulis cerita cinta yang kurang bermanfaat. Makan sambil berdiri. Baca Al-Qur'an kalau lagi mood doang.. dan masih banyak sederet sikap jahiliah yang tertanam dalam akhlak.
Intinya, LDF menjadi wadah untuk berdakwah. Dakwah untuk diri sendiri, keluarga, teman-teman, dan orang-orang terdekat lainnya. Buat teman-teman yang masih terombang-ambing (seperti sebongkah sekoci di lautan lepas... halaah) dalam mencari cintanya Allah. Mencari makna tersembunyi dari kata I-S-L-A-M., tak pernah ada kata terlambat selagi nafas belum di penghabisan. Jaringlah teman-teman, yang ketika kamu bersamanya, kamu lebih mengingat Allah dan menghindari kemaksiatan. dan ingatlah kawan... hidup hanya sekali, matipun sekali. Sebenarnya tak ada pilihan dalam hidup. Pilihannya hanya satu; menjadi orang baik dan shalih.

Kejarlah hidayahnya Allah... jemput dia... dan dapati dirimu dalam keadaan... tengah menangis di dua pertiga malam, untuk menyesali masa-masa jahiliah yang pernah mengisi hidupmu. Seorang teman di awal perjumpaannya mengatakan:

"setiap orang punya sejarah kelamnya masing-masing"

Kau hanya harus memilih... masa kelam itu berakhir sebagai sejarah, atau berlanjut sebagai episode kelam yang di ujungnya telah menanti; sebuah penyesalan tak bertepi.

-Semoga tulisan dari manusia yang fakir ini bisa bermanfaat....-

Jakarta, 11 Januari 2015

*berikut, link untuk membaca cerpen yang bagi saya... sangat inspiratif. Ketika Mas Gagah Pergi
 http://dunia-cerpen.blogspot.com/2007/09/oleh-helvi-tyana-rosa-mas-gagah-berubah.html


Selasa, 06 Januari 2015

Analisis Cerpen "Thank Iz" dengan Pendekatan Feminis

Cerpen Thank Iz merupakan literasi remaja yang dimuat dalam majalah sekolah KERTAS tahun 2010. Bercerita tentang tokoh utama Disya yang harus menelan manis dan pahitnya cinta yang diberikan Faiz terhadapnya. Analisis cerpen ini mengarah pada konteks karakteristik Disya dan Faiz yang merupakan hasil bentukan budaya patriarkis di kalangan remaja.
Wacana patriarkis tampak di awal pengadeganan cerpen ini, di mana tokoh Disya tak memiliki kendali penuh untuk memutuskan perkara hatinya. Kelemahan diri seorang wanita ditunjukkan lewat adanya ketidakmandirian berpikir. Citra tokoh utama terkesan unindependent woman. Sehingga menganggap cinta hanya sebatas kompromi perasaan. Mencintai Faiz, karena Faiz mencintainya. Pada awalnya, Disya mencoba berpikir sebelum memutuskan untuk menerima cinta Faiz. Namun, watak Faiz digambarkan sebagai sosok yang tidak bisa menunggu, dan menciptakan pressure terhadap olah pikir Disya. Kelemahan diri seorang wanita ditampilkan lewa narasi yang menceritakan rasa kagum tersembunyi Disya pada kakak kelasnya, Zakki. Sebuah rasa yang harus terkubur dalam dan dihempas bersama dengan datangnya cinta Faiz. Ketidakmampuan wanita untuk "take control" menjadi lahan kepenulisan dari narasi ini. Bagaimana sebuah kultur yang berjenjang (hierarkis) membuat wanita tidak memiliki kesempatan untuk memilih, atau sekadar menyatakan kekaguman. Karena, telah lebih dulu muncul rasa tabu bagi seorang wanita untuk menunjukkan perasaannya. Alhasil, Disya tak memiliki otoritas untuk mengkontruksi kisah cintanya sendiri. Mulai dari ia harus membuang jauh-jauh rasa cintanya pada Zakki, sampai ia harus menerima dengan setengah hati cinta yang dihadirkan Faiz. Jadilah Disya sebagai korban ketidaksetaraan gender.
Tokoh Disya yang lebih tertutup dalam menjaga rahasia hubungannya dengan Faiz berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sikap Faiz. Faiz digambarkan lebih terbuka dan acapkali mengirim sms, atau mendekati Disya di jam istirahat. Sehingga kendali relasi komunikasi ada di tangan Faiz. Karakteristik yang tidak setara kembali ditonjolkan. Di mana tokoh wanita dicitrakan pasif, dan tokoh pria dicitrakan aktif.
Pada struktur cerita berikutnya, terdapat penggalan yang memunculkan ketidakberdayaan wanita di bawah kekuasaan pria, mengenai hubungan Disya dan Rafi. Mulai dari wacana Disya meminta izin kepada Faiz untuk pulang bareng dengan teman lesnya, Rafi. Sampai pada terpurukmya Disya pada rasa bersalah. Sehingga memunculkan kesan, wanita harus lebih tunduk di bawah otoritas pria. Maka, lagi-lagi hierarki gender muncul dalam cerpen ini.
Sisi kelemahan diri tokoh utama  kembali diperlihatkan lewat adanya serangan mental pasca ia memutuskan relasi cinta dengan Faiz. Kemampuan Faiz membangun suasanan dramatis telah menunjukkan  adidaya dirinya dalam menyetir alur kisah cinta bersama Disya. Secara masif, orang-orang menghujat dan memojokkan Disya lewat ketangkasan Faiz dalam menjaring simpati. Disya digambarkan tak berdaya dan hanya bisa curhat pada temannya. Tak ada kesan meninggikan harga diri dalam benak Disya. Ia terlalu mudah terjebak dalam kubangan rasa bersalah. Padahal, rasa bersalah tersebut merupakan hasil settingan Faiz yang memanfaatkan kelemahan diri Disya, ditambah oleh rasa gengsi (prestise) karena diputuska oleh gadis itu. Maka, asumsi kehancuran hidup Faiz lahir dari pertautan rasa lemah diri Disya dan energi prestise-egoisme dalam diri Faiz.
Karakteristik Disya semakin diperlemah dan masuk zona hierarki dasar, manakala tokoh Faiz berhasil menipu dirinya. Dan memiliki kompetensi untuk melupakan cintanya pada Disya dengan cara menjalin hubungan dengan Yesi. Saat itu juga, tanpa sadar, penulis telah meruntuhkan daya proteksi harga diri tokoh Disya. Tokoh Disya terkesan sebagai tokoh yan menjadi korban karena kelemahan dalam dirinya. Dan kelemahan itu merupakan hasil bentukan dari budaya patriarki.
Di paragraf akhir dalam cerpen ini, diceritakan sebuah narasi yang merupakan ungkapan dan perasaan Disya setelah memuntahkan emosinya lewat kata-kata. Ia puas, karena telah menusuk hati Faiz dengan cercaan yang sifatnya elegan, dalam artian tidak terlalu emosional. Namun, memberi kesan kepasrahan yang berlebih. Seolah, cara wanita meluapkan emosinya hanya dalam bentuk kata-kata yang ketar-ketir di udara. Lalu, berhasil membuat lawan bicara tertunduk malu. Tapi lebih dari itu, emosi sakit hati dan rasa kesal Disya tak tersalurkan seratus persen. Sisanya mesti ditelan dalam kepahitan luka. Dia merasa dirinya tak punya kapasitas untuk membalas perilaku Faiz secara lebih ekstrem dan setimpal. Menunjukkan ciri perempuan yang lebih pemaaf dan rela untuk disakiti.
Secara keseluruhan, Cerpen Thank Iz menampakkan sisi kelemahan diri wanita dalam membuat putusan, sehingga menimbulkan kerisauan yang sulit tersalurkan, karena adanya tata nilai mengekal dalam budaya patriarkis. Dan kelemahan diri itu semakin menebal lewat karakteristik pemaaf dan terlalu pasrah menerima penipuan dan menelan hidangan rasa sakit yang disajikan oleh otoritas kekuasaan pria dalam hierarki gender tanpa dasar hakiki.

*Dibuat sebagai pemenuhan tugas akhir mata kuliah Kajian Prosa Fiksi

Jumat, 26 Desember 2014

Kajian Puisi Kucing Berwarna Biru-Afrizal Malna dengan Pendekatan Psikologi Sastra




Kucing Berwarna Biru
Afrizal Malna

sudah tiga malam ini seekor kucing sakit, selalu
tidur di depan pintu rumah saya.
Ia mengeluh dan mengerang
suaranya seperti keluar dari rumpun gelap
di halaman rumah
kadang seperti makhlus halus yang sedang membuat perjanjian
dengan pohon nangka di halaman rumah saya
     orang bilang, kucing itu kena teluh. Saya mencoba mengusirnya.
Tetapi kucing itu menatap saya seperti mata ibu saya.
Katanya dirinya adalah roh saya sendiri yang sedang sakit.
Ia mohon agar bisa tidur dalam kamar saya. Saya tak tega
mengusir kucing itu. Bulu-bulunya seperti kenangan saya
pada kasih sayang.
Malam berikutnya saya mulai terganggu. Keluhnya
berbau darah. Ia mulai menginap dalam pikiran saya.
setiap malam, seperti ada rumpun gelap dalam diri saya,
menyerupai kucing yang sakit itu.
Suara gaib di depan pintu.
setiap malam, seperti ada pohon nangka yang berjalan-jalan
dalam tubuh saya, menyerupai kucing yang mengaku
 sebagai roh saya yang sedang sakit itu.
Akhirnya saya membunuh kucing itu.
menjerat lehernya dengan tali plastik.
matanya seperti kematian yang mengetuk kaca
jendela.
besok pagi saya temukan mulut, telinga dan lubang
hidung kucing itu telah mengeluarkan tanah, berwarna merah.
rumput-rumput tumbuh di atasnya. Saya lihat ikan-
ikan juga telah berenang dalam perut dan tengkorak
kepalanya. Dan seperti seluruh surat kabar, matahari tidak
terbit pagi ini.

Analisis puisi melalui pendekatan psikologis tidak terlepas dari unsur kejiwaan dan pemikiran penyair, baik pemikiran sadar, maupun bawah sadar. Dengan mengkaji perwatakan dalam puisi dan hubungannya dengan sisi psikologis pengarang. Serta mempelajari dampaknya pada psikologi pembaca. Dan kekuatan karya sastra puisi dapat dilihat dari seberapa jauh seorang pengarang mengekspresi kejiwaannya dalam setiap larik yang ia tuliskan.
Dalam puisi Kucing Berwarna Biru karya Afrizal Malna yang ditulis tahun 1997 (merupakan salah satu puisi yang termuat dalam buku kumpulan puisi Kalung Dari Teman (1999)), terdapat 3 bait utama. Melalui analisis per-bagian, puisi Kucing Berwarna Biru dapat dikaji lebih detail. Sehingga unsur psikologis pengarang dapat ditelaah secara mendalam dan sistematis.
Afrizal Malna membuka puisi Kucing Berwarna Biru dengan penggalan konflik pada seekor kucing sakit. Ia mencoba mengungkapan keresahan batin disertai keluhan.
sudah tiga malam ini seekor kucing sakit, selalu
tidur di depan pintu rumah saya.
Pokok permasalahan dalam batin penyair adalah kehadiran kucing yang sakit. Menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Dengan citraan penglihatan, penyair mengekspresikan keresahannya melihat kucing yang sedang sakit dan setiap hari (selama tiga malam terakhir) tidur di depan pintu rumahnya. Hal ini menimbulkan kebingungan sekaligus resah, mengingat kejadian tersebut sudah terjadi selama tiga malam berturut-turut. Keresahan penyair diperparah dengan munculnya baris berikut;
Ia mengeluh dan mengerang
suaranya seperti keluar dari rumpun gelap
di halaman rumah
kadang seperti makhlus halus yang sedang membuat perjanjian
dengan pohon nangka di halaman rumah saya
Pada bagian ini, mulai muncul citraan pendengaran yang terkesan menyiksa batin. Erangan kucing yang sedang sakit, begitulah yang menyiksa telinga aku-lirik. Bahkan aku-lirik merasakan suara-suara tersebut berasal dari kegelapan di halaman rumahnya. Di baris-baris inilah, ekspresi halusinasi mulai dimainkan penyair. Gejala abnormal behavior dan mental disorder disatupadukan oleh penyair. Halusinasi yang masih bersifat rasional ada pada baris kedua. Lalu, puncak dari halusinasi mengenai suara kucing ada pada ungkapan; kadang seperti makhluk halus yang sedang membuat perjanjian dengan pohon nangka di halaman rumah saya. Pada bagian ini, penyair mulai menunjukkan sisi schizofrenia yang bernuansan mistis dengan penggunaan diksi makhluk halus.
Pada baris berikutnya, sisi halusinasi dan delusi semakin menebal dalam pikiran penulis. Hal-hal di luar batas kewajaran diungkapkan penulis dengan melibatkan tokoh lain secara majemuk (orang-orang). Sehingga memberi kesan tidak adanya gejala terisolasi dari hubungan interpersonal.
     orang bilang, kucing itu kena teluh. Saya mencoba mengusirnya.
Tetapi kucing itu menatap saya seperti mata ibu saya.
Ketakutan yang dirasakan penyair telah membentuk usaha berupa mengusir kucing yang sedang sakit tersebut. Meskipun upaya tersebut tidak jadi dilakukan karena terhalang dinding-dinding delusi yang semakin menghimpit kejiwaan si penyair. Pada baris terakhir, ia mengungkapkan betapa tatapan kucing tersebut seperti tatapan ibunya sendiri. Seolah mata ibunya telah bersemayam di balik bola mata kucing tersebut. Hal inilah yang mengikis ketegasan penyair untuk mengusir kucing tersebut. Membentuk kelemahan-kelemahan diri yang bersumber dari halusinasi-halusinasi irasional.
Pada baris berikutnya, citraan-citraan pendengaran semakin memperkeruh suasana batin penyair. Kucing itu bersuara dan mengungkapkan suatu informasi, serta permohonan yang dapat ditangkap secara utuh oleh indra penyair. Melalui baris ini, sisi schizofrenia begitu kental ditampilkan oleh penyair. Bagaimana ia memutus keterbatasan bahasa antara manusia dengan hewan.
Katanya dirinya adalah roh saya sendiri yang sedang sakit.
Ia mohon agar bisa tidur dalam kamar saya. Saya tak tega
mengusir kucing itu. Bulu-bulunya seperti kenangan saya
pada kasih sayang.
Gangguan schizofrenia dan halusinasi akut begitu terasa dalam baris pertama yang bunyinya; dirinya adalah roh saya sendiri yang sedang sakit. Penyair telah membentuk hubungan kausalitas antara kondisi berhalusinasi dengan keadaan sakit. Melalui baris ini, schizofrenia tersebut mulai terjawab. Bagaimana kondisi penyair yang sedang sakit, kemudian berhalusinasi tingkat tinggi seputar kucing yang sedang sakit. Dapat dikatakan tokoh utama dengan tokoh kucing sama-sama berada dalam satu kondisi tubuh, yaitu sedang sakit. Dan ada kecenderungan gejala munchausen (menarik perhatian dengan berpura-pura sakit). Sampai di sini, puisi Afrizal Malna masih menyimpan teka-teki; seputar eksistensi kucing tersebut. Apakah nyata? Atau hanya sebatas delusi personal?
Konflik batin semakin dahsyat dirasakan oleh penyair. Secara struktural, alur pemikiran penyair adalah; ia merasa resah melihat kucing sakit di depan pintu rumah, lalu ia mencoba mengusirnya, kemudian kucing itu memohon untuk menumpang tidur di kamar, dan terjadi paradoks dari sikap penyair lewat baris; saya tak tega mengusir kucing itu. Paradoks ini tentu telah menciptakan suasana batin yang terombang-ambing. Antara resah dan ketidaktegaan. Di tengah perasaan resah itu, telah menyusup rasa kasih sayang yang terlampau berlebihan. Tanpa sadar, perasaan itu telah membentuk kelemahan diri. Dan sialnya, kelemahan diri tersebut menyimpan segudang resiko yang dibuktikan pada bait berikut;
Malam berikutnya saya mulai terganggu. Keluhnya
berbau darah. Ia mulai menginap dalam pikiran saya.
setiap malam, seperti ada rumpun gelap dalam diri saya,
menyerupai kucing yang sakit itu.
Kondisi kejiwaan penyair semakin rentan terhadap delusi-delusi yang bersumber dari kucing sakit tersebut. Citraan dalam bait di atas lebih bersifat balutan pikiran yang melibatkan otak dengan dibubuhi halusinasi olfactory (penciuman). Semua berakar dari halusinasi. Paranoid, dan kecemasan berlebih pada bayang-bayang kucing yang sedang sakit. Di balik alam tak sadarnya, penyair mengungkapkan sisi lain dari ketergangguan. Di mana terdapat kata mulai terganggu yang bersifat permulaan dari sebuah adverbia waktu. Seolah melukiskan bahwa kejadian demi kejadian sebelumnya hanya sebatas gangguan indrawi. Tetapi lain dari bait ini, di mana gangguan yang dirasakan lebih mengarah kepada alam pikiran. Penyair mencoba mengungkapkan secara tersirat bahwa gangguan dalam konteks alam pikiran lebih kuat dampaknya dari sekadar gangguan indrawi. Bau darah, bayang-bayang kucing yang menginap dalam pikiran, kabut-kabut gelap yang menguasai diri, semua terbentuk di alam pikiran. Tidak terjangkau oleh indrawi. Bait-bait di atas telah mengukuhkan gejala psikotik yang menjadi tema penting dalam puisi ini.
Gangguan pikiran tersebut semakin menemukan sisi klimaksnya lewat bait berikut yang lebih menyerupai lorong kegilaan dan keanehan Afrizal Malna;
Suara gaib di depan pintu.
setiap malam, seperti ada pohon nangka yang berjalan-jalan
dalam tubuh saya, menyerupai kucing yang mengaku
 sebagai roh saya yang sedang sakit itu.
Halusinasi gaib begitu mendominasi bait di atas. Dengan penekanan pada kegaiban pohon nangka yang telah diceritakan di awal bait, berada di halaman rumah. Kemudian bagaiman Afrizal Malna kembali mengungkapkan sisi gaib dari sebuah pintu rumah. Tempat kucing tersebut biasa tidur di depannya. Dan penyair kembali menekankan pembaca bahwa kucing itu menganggap dirinya adalah roh penyair yang sedang sakit.  
Penggunaan simbol-simbol gelap begitu terasa pada ungkapan pohon nangka yang berjalan-jalan dalam tubuh saya. Baris ini telah menunjukkan kualitas kegilaan yang dialami penyair. Dengan tata letak kata yang tidak terkesan berlebihan namun sanggup membuat pembaca berpikir keras. Pohon nangka telah menjadi objek kegaiban yang maha dahsyat. Dengan mengusung teka-teki di awal bait. Menjadi adanya kelekatan antara kegaiban kucing dengan pohon nangka.
Puncak dari gangguan schizofrenia penyair adalah ketika ia menuliskan keputusasaan tokoh dengan melakukan cara brutal demi mengakhiri segala ganggua yang ditimbulkan kucing itu. Cara brutal itu bersifat klise; membunuh.
Akhirnya saya membunuh kucing itu.
menjerat lehernya dengan tali plastik.
matanya seperti kematian yang mengetuk kaca
jendela.
Di sinilah, sisi kejiwaan yang rusak dari tokoh aku semakin diperjelas. Kondisi schizofrenia telah menimbulkan pemikiran psikopat yang berujung pada pembunuhan. Penyair menuliskan pembunuhan dengan cara menjerat leher kucing dengan tali plastik. Kembali penyair melakukan paradoks pikiran. Dari ketidaktegaan menjadi sebuah kekejaman yang dibumbui ketakutan. Meskipun begitu, ia telah membunuh kucing itu. Dan sampai bait ini, eksistensi kucing sakit tersebut masih menjadi misteri.
Bait-bait berikutnya, lebih mengeksplorasi citraan penglihatan yang mengerikan. Merupakan dampak dari pembunuhan yang telah dilakukan. Sisi schizofrenia lebih tersamarkan pada bait ini. Antara nyata dan tidak nyata tergantung pada kondisi penglihatan tokoh saya. Nyatakah penglihatannya? Atau sekadar delusi?
besok pagi saya temukan mulut, telinga dan lubang
hidung kucing itu telah mengeluarkan tanah, berwarna merah.
rumput-rumput tumbuh di atasnya. Saya lihat ikan-
ikan juga telah berenang dalam perut dan tengkorak
kepalanya. Dan seperti seluruh surat kabar, matahari tidak
terbit pagi ini.
Hubungan bait terakhir dengan bait-bait sebelumnya telah membentuk satu kesatuan keutuhan cerita yang terjadi pada tokoh saya dengan tokoh kucing. Di mana kucing yang telah mati dibunuh merupakan sebuah delusi semata. Dampak dari pembunuhan tersebut adalah adanya rumpun tanah merah yang ke luar dari lubang-lubang tubuh kucing itu,_yang sekali lagi telah dipaparkan merupakan roh penyair yang sedang sakit. Hubungan antara pembunuhan kucing tersebut dengan asal usul keberadaan kucing telah membentuk satu kesatuan makna semantis yang melibatkan ketaksadaran pikiran. Pembaca telah dipaksa untuk menelusuri alam bawah sadar penyair yang lebih menyerupai teror kejiwaan. Pembunuh kucing itu adalah penyair, dan roh dari kucing itu berasal dari penyair. Sehingga membentuk kesatuan subjek dengan objek, yang menciptakan tragedi pembunuhan roh dalam arahan delusi tingkat tinggi. Namun, penyair tak menyisipkan nuansa cotard’s syndrome dalam bait ini. Justru sebaliknya.
Pada bait akhir ini
Bait terakhir menggambarkan betapa sebuah gundukan tanah telah tercipta yang keluar dari lapis demi lapis lubang tubuh penyair, kemudian terdapat rumputan. Tepat di bait terakhir mengisahkan sebuah rutinitas yang berbeda dari biasanya seputar matahari terbit,_yang dianalogikan sebagai surat kabar. Matahari yang tak terbit lagi menggambarkan sebuah ujung dari lorong kehidupan yang menuju kegelapan. Matahari yang tidak terbit. Telah menjadi penutup teka-teki eksistensi kucing sakit dan keterkaitan antara roh dengan kucing, juga subjek-objek pada verba transitif dari kata membunuh. Afrizal dengan segala keanehannya telah menutup puisi Kucing Berwarna Biru dengan teka-teki matahari yang tidak terbit.
Analisis Komprehensif
Seperti kebanyakan puisi Afrizal Malna, puisi Kucing Berwarna Biru ini bersifat prosais dalam pengungkapannya. Letak-letak kata dan hubungan semantis dalam bahasa puisi ini lebih teratur dibanding puisi Afrizal yang lain. Meskipun tetap dibumbui keanehan dan Afrizal Malna seperti menikmati kegilaan personal dalam penulisan kreatifnya. Seperti pada puisi-puisinya yang lain; masyarakat Rosa, dan lelaki yang menjadi seekor burung.
Kucing Berwarna Biru tetap menunjukan sisi gelap dari puisi Afrizal Malna, dengan semangat postmodernisme yang tidak terlalu terlihat. Tak ada unsur pertentangan modernitas dalam puisi ini. Puisi ini hanya sebatas rangkaian gangguan psikologis yang melibatkan hubungan kondisi sakit dengan kemunculan delusi tingkat tinggi.
Puisi Afrizal Malna yang berjudul Kucing Berwarna Biru penuh dengan nuansa gangguan psikologis. Gangguan-gangguan psikologis telah muncul di awal bait, yang merupakan hasil dari keberadaan kucing sakit di depan pintu rumah aku-lirik. Kondisi tersebut telah membentuk keresahan, bahkan telah memunculkan delusi-delusi tak berlandaskan ilmiah. Sesuatu yang irasional. Telah menciptakan gangguan personal dalam kejiwaan penyair yang dapat disebut dengan schizofrenia. Bukti dari keadaan schizofrenia terdapat pada ungkapan; kucing itu bilang ..., seperti makhluk halus yang sedang membuat perjanjian dengan pohon nangka ..., kucing itu mohon untuk bisa tidur di kamar saya.., dan ungkapan-ungkapan lain yang bersifat irasional, penuh halusinasi, dan mengada-ada.
Secara keseluruhan inti dari kondisi jiwa pengarang telah membentuk unsur-unsur keanehan yang bersifat magis. Penuh taburan delusi, dan hal-hal di luar batas kewajaran. Penyair memiliki ketertarikan pada diksi-diksi bernuansa mistik/gaib dalam penyampaian ekspresi ketakutan dalam puisi ini. Tuturan bahasa lebih teratur di banding puisi-puisi Afrizal yang lain, seperti Abad yang berlari, Winter Festival, Kardus Pandora dan lainnya. Puisi Kucing Berwarna Biru cenderung lebih teratur dalam penempatan letupan kata-kata, yang membentuk kesesuaian antar baris dalam bait.
Sisi psikologis yang ditampilkan dalam puisi ini telah menarik pembaca untuk merasakan sensasi halusinasi saat sakit. Bagaimana penyair menggiring ketakutan dan keresahan pada seekor hewan (kucing). Bagaimana seekor kucing dapat berdaya magis dan menimbulkan kecemasan. Citraan-citraan pendengaran yang menyakitkan telinga dan melahirkan ketakutan.
Kucing Berwarna Biru tampaknya mencoba memainkan sisi schizofrenia dengan cara-cara yang masih diterima akal sehat dengan mengandalkan rasionalitas dari sebuah fenomena halusinasi. Hingga menemui titik yang paling ekstrim, merupakan puncak gangguan batin. Sehingga melahirkan dorongan untuk membunuh kucing tersebut. Pada saat inilah, Afrizal memainkan alam tak sadar tokoh saya. Dengan menyisipkan halusinasi yang menanjak. Mulai dari suatu hal yang masih rasional (adanya seekor kucing sakit di depan pintu), kemudian merujuk pada baying-bayang getar suara yang menyiksa batin, ditambah dengan halusinasi mistik, kemudian kemunculan bayang-bayang yang mengganggu pikiran, sampai akhirnya halusinasi pohon nangka yang berjalan-jalan dalam tubuh. Kesemuanya telah menjadi alasan pembunuhan.
Lebih jauh lagi, Afrizal telah menggiring alam tak sadar ke arah yang menanjak berliku. Mulai dari hubungan emosional yang tidak stabil, dengan munculnya perasaan kekejaman dan ketidaktegaan, sampai pada akhirnya, melalui kegilaan dan sensasi schizofrenia, penyair telah menciptakan ruang konflik antara kesadaran membunuh dengan ketaksadaran objek yang dibunuh. Membentuk satu kesamaan antara subjek dan objek pada verba transitif membunuh.     Gejala mem-bunuh roh sendiri inilah yang memang menjadi sisi lain dari kejiwaan Afrizal Malna, seperti tampak gambang dalam penggalan puisi Chanel OO.
permisi,
saya sedang bunuh diri sebentar
Hal-hal yang bersifat paranoid dan delusi-delusi personal memang menjadi keretakan-keretakan dari pemikiran Afrizal Malna. Kata-kata yang berlompatan. Atau schizofrenia bahasa dalam puisinya tampak mempengaruhi unsur semantis dan kejiwaan tokoh. Bagaimana antara tokoh saya dengan si kucing sama-sama memiliki kejiwaan yang rumit. Penuh teka-teki. Puncak dari kerumitan tersebut adalah adanya citraan penglihatan yang bukan merupakan delusi pada bait terakhir,_namun, secara keseluruhan merumitkan unsur semantis menyeluruh dari puisi kucing berwarna biru. Pada bait-bait inilah, keanehan dan gejala schizofrenia terus dimunculkan penyair dengan penyamaran-penyamaran lewat kejadian-kejadian yang masih bersifat rasional. Contohnya pada aktivitas membunuh. Tampak jelas apa yang dilakukan tokoh saya. Namun, buram dalam hal objek sesungguhnya dari aktivitas pembunuhan tersebut. Dan bagaimana tuturan terakhir Afrizal Malna lebih menyerupai babak baru teka-teki puisinya;
Dan seperti seluruh surat kabar, matahari tidak terbit pagi ini.
Begitulah, puisi kucing berwarna biru menunjukkan kerumitan yang mendalam dari sebuah pemikiran. Segala bentuk schizofrenia bertaburan dalam bait demi bait puisi ini. Dan kejiwaan pengarang tampak jelas mengarah pada hal-hal di luar batas kendali rasionalitas dan kemerdekaan dari sebuah pemikiran aneh serta letupan-letupan delusi yang menyimpan teka-teki.