mimpi-mimpiku

Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2015

Dakwah FBS: Menata Hikmah di Tengah Kehidupan Sekuler

Islam itu Indah.. Islam itu cinta..

Bait-bait penggugah jiwa itu terdapat dalam cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karangan Helvy Tiana Rossa. Ditulis dengan memadukan estetika, kesederhanaan, dan kecintaan pada Islam. Lalu, benarkah, Islam itu indah?? Sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban. Argumentasi yang mengharap pembuktian. Dan seperti inilah, perjuangan tanpa henti yan akan dirasakan oleh tiap-tiap orang yang membenamkan hidupnya di jalan dakwah. Perjuangan untuk membumikan cinta yang termuat dalam ajaran Islam.

***

Seperti  bagian dari peradaban, Universitas Negeri Jakarta, dengan luas wilayah yang jauh lebih sempit dari Universitas Indonesia, mencoba meluapkan pengaruh dalam tatanan kehidupan di Indonesia. Sebagai pabrik sarjana pendidikan, UNJ menjadi bagian dari peradaban yang lambat laun berakumulasi menjadi sebuah kekuatan besar. Melahirkan guru-guru, yang berjuang membina intelektualitas akal dan moral generasi bangsa, UNJ dan beberapa institusi penggerak pendidikan, memiliki andil besar terhadap perkembangan Indonesia. 
Di dalam universitas itu, ada sebuah wilayah yang paling luas, dan memiliki karakter unik, sekaligus ekspresif. Orang-orang menyebutnya fakultas Bahasa dan Seni. Tempat di mana pegiat seni dan ahli bahasa berkumpul dengan jarak yang membentang di pusat kampus UNJ. Fakultas Bahasa dan Seni adalah fakultas yang tak pernah mati dari senar gitar yang bergetar, gerak-gerik tubuh yang estetis, lukisan mural, dan tujuh ragam bahasa yang harmonis, menjadikan fakultas ini bukan sekadar gabungan program studi, melainkan miniatur peradaban, dan seni, adalah ujung tombak dari peradaban tersebut. 
Berada dalam situasi yang multikultural, menjadikan fakultas ini rawan akan gesekan. Adopsi budaya, liberalisme, kreativitas tanpa batas, kebebasan ekspresi, adalah warna warni yang menjerat fakultas ini pada satu dinamika benturan budaya dan ideologi yang akrab disebut perang pemikiran. Tatanan kehidupan di FBS adalah keragaman yang mendatangkan tantangan bagi siapapun yang nekat menjebloskan dirinya dalam lingkaran dakwah. 
Sebetulnya, dua disiplin ilmu yang bertemu dalam satu fakultas, tampaknya menjadikan FBS semakin rumit untuk dipahami karakternya. Sebab, interdisiplin ilmu bahasa dan seni memiliki karakter yang jauh berbeda, dan tentunya, karakter mahasiswa yang juga berbeda. Sehingga, pemetaan dakwah hendaknya dibuat dengan perspeksi yang terpisah. Agar, tidak salah sasaran dalam pergerakan dakwah berbasis karakteristik budaya. 
Mengenali medan FBS, sejatinya dapat ditarik tiga karakteristik pokok. Pertama, FBS merupakan fakultas yang bernilai seni tinggi, dengan beragam bentuk karya seni yang berbeda. Kedua, FBS pada prinsipnya, bukan fakultas yang bisa berdamai pada aturan agama langit yang dianggap membatasi kebebasan ekspresi,_menuangkan gagasan seni. Ketiga, FBS memiliki karakter kuat sebagai fakultas yang mengadopsi nilai-nilai budaya peradaban lain, sehingga, berada di fakultas ini, seperti menginjakkan kaki di tiga per empat dunia.
Jiwa seni, adalah modal penting bagi lokomotor dakwah di FBS. Jiwa seni menjadi kendaraan yang dapat mengantarkan da’i untuk menerobos pergaulan yang multikultural. Komunitas sosial dengan beragam ideologi, dan pemahaman tentang akidah. Latar belakang seni inilah yang kemudian menjadi perhatian khusus bagi pergerakan dakwah FSI-KU. FSI-KU sebagai lembaga yang mengakomodasi gerakan dakwah, berusaha menyesuaikan diri dengan karakter FBS. Dengan suguhan Islamic art performance di acara puncak Salim EXPO-KU, yang mengundang perwakilan jurusan untuk mengisi acara. Selain itu, perkembangan musik nasyid, dan pertunjukan ekspresif (drama, musikalisasi, dan pembacaan puisi) ikut serta mewarnai kegiatan dakwah di FBS. 
Filtrasi Islam terhadap ekspresi seni di FBS, tampaknya menjadi pembatas antara kebebasan ekspresi dan hukum Allah. Hal inilah yang menumbuhkan benih-benih kebencian di hati sebagian orang, yang sangat anti terhadap aturan agama langit di setiap sendi kehidupan. Bagi mereka, seni adalah barang estetis yang takkan bisa hidup, jika hukum Allah berada di sebelahnya. Maka, hukum itu harus dijauhkan sejauh-jauhnya, sampai tak terdengar lagi lafaz adzan mengisi dimensi seni. Benturan inilah yang mesti disikapi para punggawa dakwah di FBS. Tentunya dengan pendekatan yang perlahan. Penanaman nilai-nilai pergaulan yang diawali dengan dakwah lewat akhlak, bukan dengan lisan yang tajam, apalagi tangan yang tak bersahabat. Suatu ketika, dakwah FBS mendapat ujian kedewasaan dan kesabaran, melalui coretan-coretan bernafas kebencian pada lukisan mural yang mensyiarkan agenda SHOW FBS. Maka, kemarahan itu mesti dikubur dalam-dalam, diganti oleh indahnya kesabaran dan kebeningan akhlak. Sebab, bukan pada musuh-musuh Islam, da’i harus meletakkan kebenciannya, melainkan pada dirinya sendiri. Segala akivitas kemunduran dakwah, acapkali berawal dari kemaksiatan yang dilakukan oleh da’i. 
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam berdakwah di FBS, adalah adopsi budaya, yang melahirkan keragaman, dan keenganan untuk menunjukkan identitas diri sebagai bangsa Indonesia. Perang pemikiran telah lama membangun kejayaannya di fakultas ini. FBS memang menjadi santapan menggiurkan bagi proyek penghancuran budaya dan akidah. Berawal dari memanfaatkan ketertarikan mahasiswa dalam mempelajari budaya luar, maka, filtrasi yang gagal, telah melahirkan perubahan paradigma berpikir. Ujung dari perubahan paradigma berpikir tersebut adalah menjauhi ajaran Islam. Benturan budaya dan peradaban ini telah menghasilkan civitas akademika yang ragu pada agamanya sendiri. Merasa kehidupan adalah lahan kesenangan, dan sejenak lupa akan keabadiaan akhirat. Setiap hal yang berhubungan dengan Islam, seolah-olah ingin disingkirkan, agar lenyaplah rasa bersalah pada tiap-tiap kesalahan yang melampaui batas. Benturan budaya inilah yang mesti dihadapi setiap punggawa dakwah di FBS, yang membuat mereka seperti bernafas dalam lumpur.  
Tiga karakter tersebut mesti diperhatikan untuk menyusun strategi perang yang ideal. Sebab, betapapun rumitnya keadaan di FBS, fakultas ini memiliki rekam jejak yang memukau. Banyak kisah hijrah yang terekam di FBS. Seolah petunjuk Allah telah ada di setiap tikungan di fakultas ini. Bertabur hikmah di balik gemerlapnya kehidupan sekuler. Meski begitu, pergerakan dakwah mesti terus berjalan, demi menjaga roda perubahan terus berputar ke arah kemenangan. Jangan sampai berbalik arah menuju kematian dakwah.
Kematian dakwah di FBS dapat ditandai dengan menurunnya kapasitas seni para punggawa dakwah, penyisipan unsur keindahan Islam yang gagal menyelinap masuk dalam dimensi seni, serta cengkeraman perang pemikiran yang tidak bisa diimbangi. Lebih dari itu, kemerosotan akhlak dan ruhiyat para punggawa dakwah, tentunya menjadi alasan utama. Maka, kekuatan besar mesti dipersiapkan. Sebab berdakwah di FBS bukanlah pekerjaan mudah. Banyak hal yang harus dibenahi. Banyak ancaman yang harus dihadapi, dan semua itu dilakukan dengan jumlah pasukan dakwah yang tidak banyak. Sebab jalan dakwah memang pilihan yang rumit.
Berdakwah di FBS seperti menabur benih kebaikan di hamparan padang gurun yang buas. Maka bersiaplah dengan letih yang mengepung dari beragam arah, dan hirup aroma tandusnya. Berdakwah di FBS seperti menopang bumi Eropa, maka bersiaplah dengan tubuk yang remuk, dan tulang belulang yang retak. Berdakwah di FBS seperti menggenggam bara api, maka bersiaplah dengan panas yang membakar. Berdakwah di FBS adalah suatu kepastian, sebab tak ada tempat yang tak ada Allah di dalamnya, dan cahaya hidayah telah lama bersinar di langit FBS. Maka jadilah mutiara-mutiara surgawi yang bersinar di langit FBS.

***

Sabtu, 11 April 2015

Sebenar-benarnya Mengenai Si Jilbab Panjang dan Si Jenggotan


ketika kamu terang-terangan memusuhi dia, dan aktivitasnya...
ssssttt... jangan-jangan, selama ini, dia menyisipkan namamu dalam
hempas sujudnya yang paling sunyi di malam pukul 2
lalu berbisik pada Rabbnya;

"YA ALLAH.. berilah ia mereka hidayah..
sebagaimana dulu Engkau memberiku hidayah...
YA ALLAH.. selamatkanlah mereka...
sebagaimana Engkau menyelamatkanku
dari fitnah dunia dan masa-masa jahiliah"

kawan.. pernahkah terbersit dalam benakmu? pikiran-pikiran negatif (nethink) sama orang-orang yang terkesan menonjolkan sisi keIslaman. Orang-orang berjilbab panjang berlapis.. atau.. para ikhwan yang merawat jenggotnya. Sebenarnya, apa sih mau mereka? jadi umat Islamnya wolesss ajah dong! Gak usah fanatik. Begitu barangkali.. cibiran yang sering muncul. Berjingkrakan di telinga kaum muslimin (yang ori, bukan KW 1/KTP/dogmatis/atau.. Islamic-Sekuler). Okee.. kembali ke pertanyaan.. apa tujuan mereka seperti itu?
Hm.. perempuan yang berjilbab panjang.. pake rok rapi (panjang).. kaus kaki.. dan bajunya longgar, tak berlekuk ketat. Ini! Muslimah sejati yang mencintai Rabb-nya dengan ketulusan. Sebab, ia mau menjaga kehormatannya sebagai wanita. Ia menghargai cara Islam menjaga kaum perempuan. Dan ia juga tidak ingin menjadi perempuan yang dilaknat, karena memakai mode bawahan celana (bukan fitrah busana perempuan).
Terus... cowok yang jenggotan.
Kadang saya suka bingung. Siapa yang jenggotan.. siapa yang gelagapan. Okee.. semua udah tau lah yaa.. merawat jenggot itu bagian dari sunnah Rasul. Dan untuk menyelisih diri kita dari umat sebelah. Biar bisa berteriak; "saksikan! Kami ini seorang muslim!" -Al-Imran; 64-.
Ahh.. yang jenggotan itu teroris!
weittss.. jangan asal nge-judge dulu sob. Coba cek lagi.. siapa yang membombardir Afghanistan.. Hiroshima.. Irak.. dan siapa yang menskenario pembantaian Shabra dan Shatila? Jangan-jangan jenggotnya Bush itu transparan kali yaa.. ?
Kayaknya, istilah teroris itu makin lama makin mengabur. Gak lucu kan.. kalo suatu saat Badan Bahasa men-define ulang kata teroris. Jadi dipersempit (khusus umat Islam). Huhuuu
Buat temen-temen yang masih curiga sama isu terorisme.. bisa mulai baca-baca isu konspirasi terselubung tragedi WTC (black tuesday). Pahami fitnah yang berdetak di dalamnya.
Apakah mereka fanatik?
Sebenarnya.. apa yang kita sebut fanatik, justru adalah sikap normal seorang muslim. Tapi sayang, kita banyak alpa sama Qur'an dan Hadis. Kebanyakan dari kita berpikir; umat Islam yang sering dateng ta'lim, sering baca Qur'an.. emoh buat sentuhan sama lawan jenis... busananya syar'i.. ngomongnya tentang Islam melulu.. peduli Palestina. it's fanatic. Hoho.. we will not think like that if we want to know about our religion more. Umat muslim yang nggak tau isi Qur'an dan hadis.. ibarat seorang guru yang mau ngajar dengan kurikulum 2013.. tapi gak mau membaca, mengkaji, memahami pedoman kurikulum tersebut. Walk on the stray way!
Satu hal... kemenangan hakiki kita.. bukan terletak pada keberhasilan kita menggenggam dunia. Tapi kemenangan nyata adalah ketika kita bersiap untuk menghadap sang Illahi. Jangan pernah gengsi untuk berpikir; ingin seperti mereka.. si jilbab panjang.. dan si jenggotan. Kau hanya perlu menyisihkan waktu untuk sejenak berpikir... mau jadi muslim yang seperti apa? Muslim yang dogmatis (ikut-ikutan), KTP (hanya sebatas status), atau yang original (yang memahami apa itu Islam? Siapa Nabi Muammad? dan untuk apa kita hidup di dunia ini).

Semoga tulisan begajulan ini bisa bermanfaat..
Semangat Mereformasi Iman... 

Senin, 12 Januari 2015

Mengapa Saya Memilih LDF?

Mengapa saya memilih LDF (Lembaga Dakwah Fakultas)???

jawaban mutlaknya; karena Allah...
tapi akan saya paparkan sedikit, perjalanan menemukan jawaban itu...

Awalnya.. masuk LDF itu sesuatu yang asing, karena memang pada dasarnya, Islam hadir sebagai sesuatu yang asing di tengah kehidupan jahiliah. Masuk organisasi dakwah sebenarnya bukan sesuatu yang spontanitas. Sempat terpikir ketika SMK, sebelum akhirnya saya memilih ekskul jurnalistik, dan melepas keinginan masuk rohis.
Seperti kebanyakan naluri maba; menyeleksi daftar ormawa (atau umumnya disebut UKM, istilah anak SMA-nya ekskul) yang ingin diselancari. Kala itu, saya tertarik untuk ikut BEM, LKM, KOPMA, dan FSI-KU. Setelah fix jadi anak BEM (departemen HUMAS), seorang teman berucap; "kalau BEM itu... lebih ke duniawi. Dan FSI-KU untuk akhiratnya. Biar seimbang."
Saat itu, ada banner besar di Mesjid tercinta UNJ: Mesjid Nurul Irfan, yang isinya Open Recruitment FSI-KU. Saya baca sejenak setiap selesai wudhu. Dan tertancap sebuah nama: MCNR (Media Center N' Relationship). Kala itu, masih berpikir: mungkin gak ya?? jadi anak LDF? Sikap masih amburadul... ilmu agama masih cetek.. dan haahh.. masih banyak masih-masih yang lain...
Beberapa bulan sebelumnya, seorang teman meminjamkan buku karya Helvy Tiana Rosa yang judulnya; Ketika Mas Gagah Pergi. Dia bilang; "buku ini pas banget dibaca sama orang-orang kayak Heri." Alhasil, saya jadi penasaran. Dan... setelah baca sampai habis, saya merasa masih jauh sekali dengan karakteristik Mas Gagah yang dicitrakan sebagai Ikhwan dalam cerita itu. Tapi ajaib, saya ingin meniru tokoh tersebut. Dan mulai memasukkan nama FSI-KU ke dalam daftar ormawa yang ingin diikuti.
Setelah lama kuliah di UNJ, saya mulai melek tentang dunia kampus yang keras. Pertarungan ideologi menyelinap di tengah-tengah perkuliahan dan diskusi. Salah gaul sedikit, bisa terjerumus ke arah yang menjauhkan diri kita dari nilai-nilai keIslaman. Maka, masuk FSI-KU menjadi harga mati bagi saya untuk mereformasi iman. Saya nggak betah dengan hidup yang gini-gini ajah. Jadi umat Islam yang hanya menjalankan ritual rutin keagamaan, seperti shalat, puasa, zakat. Tahajudnya masih di musim-musim pengharapan (saat UN, SBMPTN, dan ajang lomba), jarang mengkaji Al-Qur'an, dan cuek sama perkembangan Islam.
Dan entah... sudut hati bagian mana yang menggerakkan saya untuk mengetik SMS: Daftar FSI-KU_MCNR dan blablabla. Hmm... hidayahkah?? Yang jelas, prinsip saya; jika seseorang ikut BEM, ia punya kapasitas lebih untuk berurusan dengan birokrat dan punya pengalaman mengurus event. Anak LKM terasah jiwa kritis dan kelihaian menulisnya. Anak teater jago akting dan lebih PD berekspresi di depan umum. Anak UKO lebih tangkas di bidang olahraga yang ia geluti. Dan tentu... sobat muslim punya jawaban yang homogen, jika menjadi anak FSI-KU... maka... (Silogisme ini sudah konvensional untuk dimengerti).
Barangkali, jika dulu saya masih menuruti hawa nafsu berfikir dengan perspeksi negatif; "Ahh, gak usah masuk LDF. Kalau mau Islami, secara autodidak ajah berkembangnya." Saya tidak tahu... apakah hati ini sampai untuk menjerat cintanya Allah. Apakah hati ini sanggup menebas ganasnya hidup? Jika dulu saya tidak menancapkan tombak perjuangan mereformasi iman, mungkin saat ini masih jauh dari nilai-nilai Islam. Langkah kaki ini masih amat berat untuk shalat berjamaah di Mesjid. Masih sering menyisipkan emoticon titik dua bintang kepada lawan jenis dalam hubungan sosial media. Tidak keberatan berkhalwat. Pakai celana dandy yang ketat. Masih hobi setel musik Lady Gaga, Rihanna, Eminem. Menulis cerita cinta yang kurang bermanfaat. Makan sambil berdiri. Baca Al-Qur'an kalau lagi mood doang.. dan masih banyak sederet sikap jahiliah yang tertanam dalam akhlak.
Intinya, LDF menjadi wadah untuk berdakwah. Dakwah untuk diri sendiri, keluarga, teman-teman, dan orang-orang terdekat lainnya. Buat teman-teman yang masih terombang-ambing (seperti sebongkah sekoci di lautan lepas... halaah) dalam mencari cintanya Allah. Mencari makna tersembunyi dari kata I-S-L-A-M., tak pernah ada kata terlambat selagi nafas belum di penghabisan. Jaringlah teman-teman, yang ketika kamu bersamanya, kamu lebih mengingat Allah dan menghindari kemaksiatan. dan ingatlah kawan... hidup hanya sekali, matipun sekali. Sebenarnya tak ada pilihan dalam hidup. Pilihannya hanya satu; menjadi orang baik dan shalih.

Kejarlah hidayahnya Allah... jemput dia... dan dapati dirimu dalam keadaan... tengah menangis di dua pertiga malam, untuk menyesali masa-masa jahiliah yang pernah mengisi hidupmu. Seorang teman di awal perjumpaannya mengatakan:

"setiap orang punya sejarah kelamnya masing-masing"

Kau hanya harus memilih... masa kelam itu berakhir sebagai sejarah, atau berlanjut sebagai episode kelam yang di ujungnya telah menanti; sebuah penyesalan tak bertepi.

-Semoga tulisan dari manusia yang fakir ini bisa bermanfaat....-

Jakarta, 11 Januari 2015

*berikut, link untuk membaca cerpen yang bagi saya... sangat inspiratif. Ketika Mas Gagah Pergi
 http://dunia-cerpen.blogspot.com/2007/09/oleh-helvi-tyana-rosa-mas-gagah-berubah.html